ROCK CLIMBING
"Because it's there...".MENDENGAR kata panjat tebing, kita seperti dikenalkan pada satu jenis hobi baru, terkesan ekstrem dan penuh tantangan. Benarkah kita belum mengenalnya?
Mungkin kita masih ingat waktu kecil dulu, alangkah gembiranya bermain, memanjat tembok, pohon tanpa memikirkan risikonya, jatuh dan terluka. Sebenarnya panjat tebing juga tidak jauh dari itu, tetapi kini kita sudah memilih medan yang khusus dengan kemampuan memanjat yang baik. Panjat tebing (rock climbing) merupakan bagian dari mountenering. Selain rock climbing, masih ada bagian mountenering lainnya yaitu hill walking dan ice/snow climbing.
Hill walking merupakan perjalanan biasa melewati hutan dan perbukitan dengan pengetahuan peta, kompas, dan survival. Kekuatan kaki menjadi faktor utama. Dalam rock climbing, medan yang dihadapi berupa bukit curam atau tebing terjal, kekuatan tangan dan peralatan panjat sangat berperan di sini. Seperti halnya rock climbing, dalam ice/snow Climbing juga medan yang dihadapi curam dan terjal, namun berupa perbukitan es dan salju.
Tidak jelas juga bagaimana aktivitas macam ini berawal, namun pada periode tahun 1490-an orang sudah mulai naik turun gunung untuk keperluan mata pencaharian. Pada masa itu orang sudah naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen untuk berburu Chamois, sejenis kambing gunung.
Tahun 624 pastor-pastor Jesuit dari Eropa adalah orang-orang pertama yang melintasi pegunungan Himalaya, tepatnya di Mana Pass (Pass = lembah di antara dua puncak) dari India ke Tibet untuk misi keagamaan. Sejak saat itu, ekspedisi-ekspedisi pendakian banyak dilakukan, sampai akhirnya berdiri Alpine Club (klub pendaki gunung) yang pertama di Inggris tahun 1857, suatu zaman keemasan bagi dunia pendakian.
Demam mendaki gunung es terjadi diawali dengan suksesnya ekspedisi dari Inggris mencapai puncak atap dunia, Mount Everest pada tahun 1952. Dalam Ekspedisi itu, Sir Edmund Hilary (New Zealand) dan Tenzing Norgey (Sherpa) adalah manusia-manusia pertama yang menjejakkan kakinya di puncak Everest.
Awal sejarah pendakian gunung di Indonesia ditandai dengan lahirnya dua perkumpulan pendaki gunung tertua, Mapala UI di Jakarta dan Wanadri di Bandung tahun 1964. Berbagai ekspedisi pendakian gunung dilakukan, baik oleh ABRI maupun sipil.
Dengan dibukanya kembali kawasan gunung es Carstenz di pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya oleh pemerintah RI tahun 1971, berbagai ekspedisi mancanegara dilakukan antara lain oleh Australia, Jerman, Amerika, bahkan Hongkong ke kawasan ini. Tahun ini pula orang-orang sipil Indonesia pertama antara lain Herman O Lantang dan Rudy Badil dari Mapala UI sukses mencapai puncak Jaya dalam ekspedisinya ke Irian.
Ketika mendaki gunung, alam menjadi rintangan yang cukup berat. Pada pendaki gunung sering menemui rintangan yang berupa medan terjal. Perlu teknik khusus untuk melewati jalur pendakian (hill walking) yang terjal seperti ini.
Saat itulah para pendaki gunung mulai berpikir teknik-teknik khusus dalam menghadapi tebing terjal. Berbagai teknik mulai digunakan, peralatan khusus panjat seperti tali, cincin kait (carabinner), dan sepatu khusus seperti menjadi alat yang vital dalam pendakian. Panjat tebing merupakan suatu alternatif yang digunakan jika seorang pendaki menemui tebing terjal. Saat itulah panjat tebing mulai dikenal orang.
Dalam perjalanannya ke depan, panjat tebing semakin berkembang luas dan memasyarakat. Ada yang menganggapnya petualangan maupun olahraga, bahkan wisata di akhir pekan. Bagi mereka yang terlibat dalam rutinitas kota dan tidak sempat memanjat di tebing alam di luar kota, dapat menikmati papan panjat buatan yang saat ini sudah banyak dibuat, mulai dari garasi depan rumah ssampai pelataran parkir mal.
Jenis
Aktivitas panjat tebing terbagi dalam beberapa jenis. Berdasarkan tujuannya, panjat tebing terbagi atas adventure climbing dan sport climbing. Berdasarkan peralatan yang digunakan, panjat tebing terbagi atas artificial climbing dan free climbing. Dalam adventure climbing, panjat tebing lebih ditekankan pada sisi petualangannya. Tebing yang menjadi obyek pemanjatan adalah Tebing besar (big walls) yang memiliki ketinggian di atas 100 meter. Berbeda dengan adventure climbing, sport climbing lebih ditekankan pada sisi olahraganya untuk menjaga kesehatan. Tebing yang biasa dipanjat biasanya tebing-tebing pendek dengan ketinggian di bawah 20 meter.
Dalam artificial climbing, peralatan panjat merupakan kunci berhasilnya suatu pemanjatan. Di sini peralatan panjat digunakan untuk menambah ketinggian dan menjaga keselamatan. Dalam free climbing, Peralatan panjat tidak digunakan untuk menambah ketinggian, tapi sebatas untuk menjaga keamanan si pemanjat.
Selain jenis pemanjatan di atas, para pemanjat masih mengembangkannya lagi dengan gaya dan teknik yang lain. Kini di kenal free solo climbing, di mana pemanjatan dilakukan tanpa alat pengaman apa pun. Atau speed climbing, suatu pemanjatan dengan mencapai kecepatan waktu tertentu untuk menuntaskan satu jalur pemanjatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Teknik
Melakukan kegiatan panjat tebing tidaklah juga dikatakan mudah. Dengan tingkat risiko kecelakaan yang cukup tinggi, penguasaan teknik dan peralatan panjat mutlak perlu. Teknik-teknik dasar seperti keseimbangan tubuh, endurance (daya tahan) perlu dilatih untuk mencapai keterampilan memanjat yang baik.
Untuk menuntaskan suatu jalur pemanjatan di tebing besar yang tingginya ratusan meter diperlukan waktu pemanjatan selama berhari-hari. Ada teknik khusus untuk menyiasati jalur pemanjatan seperti ini, yaitu teknik Himalayan dan teknik Alpine. Dalam teknik Himalayan, pemanjat akan selalu terhubung ke tanah melalui tali tetap (fixed rope). Tali tetap ini digunakan untuk keadaan tertentu atau digunakan turun kembali
ke base camp menghindari malam di tebing.
Berbeda dengan teknik Himalayan, dalam teknik Alapine, pemanjat tidak lagi terhubung ke tanah setelah mencapai ketinggian. Tidur dalam bivak sambil menggantung adalah pilihan tepat untuk melewati malam.
Peralatan
Peralatan yang biasa digunakan dalam suatu pemanjatan cukup beragam mulai dari tali, harness, sepatu panjat, kantung kapur (chalk bag), dan lain-lain. Tali yang biasa digunakan dalam panjat tebing adalah tali jenis kernmantle, dulu orang menggunakan tali howser laid untuk memanjat.
Kernmantle terdiri dari dua bagian, yaitu kern (inti) dan mantle (lapisan yang menyelimuti inti). Sepatu yang digunakan untuk memanjat adalah sepatu khusus. Alasnya dilapisi karet agar tidak selip dan mudah terpeleset. Pemanjat juga biasa membawa kantung kapur (chalk bag) yang berisi magnesium carbonat. Bubuk ini ditaburi pada tangan untuk menghilangkan keringat agar tidak licin saat menggenggam tebing.
Peralatan panjat sangat krusial dalam panjat tebing. Keselamatan kita kadang tergantung padanya sehingga penguasaan peralatan yang baik adalah sangat penting. Untuk pemanjatan di tebing besar, manajemen rope (manajemen tali) merupakan hal yang selalu bikin ribet. Dengan banyak dan panjangnya tali yang diangkut ke atas, tali tidak boleh kusut. Pemanjatan bisa terhambat sampai setengah hari jika tali kusut. Jadi, tali pun harus diatur penggunaannya dengan manajemen rope yang baik.
Etika
Etika adalah nilai-nilai yang dianut dalam suatu komunitas sosial. Dalam komunitas panjat tebing-pun ada etikanya, yaitu apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan. Misalnya, mengubah bentuk permukaan tebing pada suatu jalur pemanjatan dianggap haram bagi sebagian besar pemanjat atau masalah keaslian jalur, di mana pemanjat harus menjaga keaslian jalur pemanjatan dengan tidak menambah atau mengurangi tingkat kesulitannya.
Masalah etika ini juga kerap membawa pertentangan di kalangan para pemanjat. Misalnya, ketika Ron Kauk, pemanjat top Amerika membuat sebuah jalur pemanjatan di Yosemite, Amerika, dengan teknik modern (membuat jalur sambil turun rapling dari atas).
Yosememite adalah lokasi pemanjatan yang terkenal dengan kawasan pemanjat tradisional dengan konservasi alamnya yang ketat, di antaranya adalah John Bachar. Bachar tidak memperkenankan pembuatan jalur dengan gaya modern.
Bagi sebagian pemanjat tebing, memanjat adalah kepuasan dan kebebasan. Namun demikian, menghormati etika dalam panjat tebing adalah sikap bijaksana tanpa harus menghilangkan maknanya, "Free Climbing is..... Free".
Sumber: Harian Kompas 2002,
Dadang Sukandar-Mapala UI
pengirim : PLTK-03102/BW (ferry_pei@yahoo.com) tgl kirim : 2004-12-08 00:12:04 |